Pengadaan Tank Leopard


Tank Leopard 2A6

KEINGINAN Markas Besar TNI Angkatan Darat (Mabesad) untuk segera memodernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) nampaknya bakal terseok-seok. Kementerian Pertahanan harus berjuang keras untuk menghadapi DPR guna memuluskan langkah itu.

Apalagi, komisi pertahanan dengan tegas menyatakan menolak pembelian tank Leopard 2A6 buatan Jerman, yang dianggap tidak cocok dengan wilayah geografi di Indonesia.

“Tank canggih dengan berat beban 63 ton dirasakan tidak cocok untuk manuver di wilayah geografis Indonesia yang berbukti, gempur bahkan berawa,” kata Wakil Ketua komisi pertahanan DPR Tubagus Hasanuddin kepada okezone.

Sehingga, menurut TB Hasanuddin, tank Leopard bekas negara Balanda itu kurang taktis untuk sistem pertahanan pulau-pulau seperti di Indonesia.

Alasan penolakan lain adalah, Kemenhan dianggap belum menyampaikan secara resmi mengenai rencana pembelian tank Leopard ini. Dua alasan itulah mengapa DPR hingga kini belum menyetujui rencana pengadaan tank Leopard untuk TNI AD.

Penolakan itu, dinilai pengamat Militer Universitas Parahyangan, Anak Agung Banyu Perwita masuk akal. Hal itu lantaran memang tank Leopard tidak cocok digunakan di Indonesia.

Menurut dia, Indonesia memiliki topografi dataran yang berbeda dibandingkan negara-negara yang lebih dulu menggunakan kendaraan lapis baja tersebut.

Banyu Perwita mengatakan Indonesia memiliki lebih banyak medan berbukit dan cenderung berdataran tinggi. Sedangkan tank Leopard didesain untuk digunakan di wilayah berdataran rendah.

“Kalaupun punya, tank di Indonesia harus kecil, biar mobilitasnya tinggi” Kata banyu Perwita saat dihubungi Okezone.

Bukan hanya itu, tank Leopard dianggap memiliki teknologi yang sudah usang dibandingkan tank-tank keluaran terbaru. “Jadi agak ketinggalan. Harga juga lebih mahal,” kata dia.

Pemerintah Blunder

Sebabnya, Banyu Perwita menilai ada kejanggalan di balik rencana pengadaan tank Leopard. Sebab, Departemen pertahanan sebelumnya tidak pernah mengajukan rencana anggaran mengadakan tank tersebut. “Ini aneh. Bisa blunder buat Dephan,” ungkap Banyu Perwita.

Banyu menjelaskan kehadiran tank Leopard tidak terlalu penting jika digunakan di Jawa atau Sumatera. Fungsinya di Indonesia akan menjadi maksimal apabila digunakan di daerah perbatasan seperti Kalimantan atau Papua. “Tapi, dalam 10 sampai 15 tahun ke depan, saya pikir Indonesia tidak perlu penambahan tank,” jelas dia.

Menurut Banyu, justru yang perlu dibenahi dalam sistem pertahanan Indonesia adalah memperbaiki sistem pertahanan udara dan laut.

Ia menjelaskan, udara dan laut memiliki peran sentral dalam perang modern. “Harus ada penguatan radar sistem udara dan laut. Indonesia harus punya pesawat dan kapal pencegah yang kuat,” tutur Banyu.

Namun, Indonesia mengakui sistem persenjataan dan pertahanan Indonesia masih kalah jauh dibandingkan negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia. “Dari sisi teknologi banyak kalah. Kita masih sangat tertinggal di laut dan udara,” ungkapnya.

Media Tak Vulgar

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan (Kapuskom Publik Kemhan) Brigjen TNI Hartind Asrin mengatakan, sebaiknya media tidak lagi terlalu vulgar mengungkap kondisi alutsista TNI.

Bahkan sudah ditegaskan oleh Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI), meminta media massa di Indonesia, cetak maupun elektronik untuk tidak berlebihan mempublikasikan setiap pemberitaan yang menyangkut alutsista Indonesia.

Mengapa TNI perlu merahasiakan segala yang terjadi terhadap alutsista TNI terhadap dunia asing, itu sangat berpengruh sekali, dan akan mengancam kedaulatan NKRI. Karena itulah, bila kondisinya dipublikasikan secara terbuka dengan alasan tranparansi dan akuntabilitas, tentu yang paling diuntungkan justru calon musuh bangsa Indonesia.

sumber: Okezone
Baca juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar